China Town Bandung

Tepatnya 4 Agustus 2017, Walikota Bandung Bapak Ridwan Kamil meresmikan China Town Bandung.
Inovasi Kang Kamil ini keren-keren, kasih 4 jempol! ❤
Secara khusus, aku mengucapkan terima kasih karena di Bandung ini warga Cina tidak di diskriminasi.

Yuk, kita lihat-lihat ada apa disini.
China Town Bandung ini terletak di Jalan Kelenteng No. 41, Bandung.
Pertama, tempat parkir tidak luas! Hahaha…
Apalagi kalo bawa kendaraan roda empat atau lebih, sepertinya akan sangat susah parkir 😀
Sebelum masuk, kita harus beli tiket masuk dulu seharga 20.000 IDR
Kita akan dapat “Voucher Penukaran di Tempat Bertanda Khusus” ini bisa di tukar dengan susu kedelai atau es krim.

Begitu masuk kita disambut oleh lampion warna-warni.

Disini ada museum juga loh!
Perjalanan orang Cina bisa sampai ke kota Bandung.
Juga barang-barang autentik masa lalu yang biasa orang Cina pakai.
Opa Oma pasti bisa nostagia kalo kesini.
Karena barang-barang ini udah ga ada yang jual lagi sekarang.

Kalo kamu sering baca komik jepang atau film jepang.
China Town Bandung ini mirip dengan pasar malam.
Disini ada toko souvenir, tempat makan, butik, dan game.
Yang sayangnya, ga aku foto karena low batt hiks… T_T

Untuk anak-anak bakal happy kesini, karena ada game tangkap ikan dan lempar bola.
Untuk perempuan juga bakal happy karena banyak banget butik yang menjual baju, dari dress hingga baju tidur ada.
Untuk laki-laki jangan kuatir, disini banyak banget kursi dan meja juga tempat makan.
Mulai dari cemilan, minuman hingga makanan berat.

Jadi makin penasaran?
Yuk jangan lupa mampir kesini ya!
Follow juga instagram @chinatown_bdg

Have a great day guys!

Advertisements

2 thoughts on “China Town Bandung

  1. Salut untuk Bapak Ridwan Kamil, beliau akan menaikan derajat warga keturunan agar lebih dihargai oleh masyarakat.

    Diskriminasi sampai kapan pun akan selalu ada. Terlebih dari golongan menengah kebawah dengan tingkat pendidikan yang rendah.
    Contoh sederhana, jalan kaki dari cihampelas atas ke bawah, saya disoraki orang2, dipanggil “Cina” mungkin sekitar 10x. Lebih parah lagi di sekitar BIP, akan lebih banyak yang manggil “Cina”. Umur saya saat ini 30th, kalau dulu saat SMP atau SMA, mungkin yang menyoraki bisa 2x lipat, dan dulu saya kerap dipukuli orang tidak dikenal di jalan karena saya Cina.

    Di sekitar pecinan, tentu tidak dirasakan ada diskriminasi, karena orang2 sudah terbiasa melihat warga keturunan, tapi di daerah lain seperti pinggiran Bandung, diskriminasi masih kental dirasakan, seperti di daerah rumah saya.

    Masih lebih baik Jakarta, karena disana orang2 lebih open minded, cuek dan sibuk dengan pekerjaannya, kalau di Bandung lebih banyak pengangguran. Saya tinggal di Jakarta 3 tahun, selama itu tidak pernah sekali pun ada yang panggil cina di jalan.

    Lebih baik lagi di Bali, saya tinggal 2 tahun disana, dan merasakan kedamaian, tidak ada perpecahan, tidak ada demo anarkis, tidak ada kerusuhan.

    Kelak jika uang saya sudah cukup, akan beli rumah di Bali dan menetap disana selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s